"Pengembangan elektrifikasi jalur kereta api Rangkasbitung-Merak membutuhkan biaya investasi sekitar Rp 1,29 triliun. Pengembangan elektrifikasi tersebut memberikan tingkat kelayakan ekonomi yang cukup baik, dengan nilai economic internal rate of return (EIRR) di atas 10 persen. Dengan demikian, berdasarkan hasil kajian, investasi pembangunan ini dinilai layak dilakukan oleh pemerintah," kata Endad.
Menurut Endad, elektrifikasi atau pembuatan jalur KRL bisa meningkatkan kapasitas penumpang harian lintas Rangkasbitung-Merak dari 9.900 penumpang per hari menjadi 18.000 penumpang per hari. Saat ini, perjalanan kereta lokal atau Commuter Line Rangkasbitung-Merak menggunakan kereta lokomotif biasa.
"Pengembangan secara bertahap dapat dilakukan melalui pembangunan elektrifikasi jalur kereta api Rangkasbitung-Serang terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan hingga Cilegon dan Merak," katanya.
Dia berharap pengembangan elektrifikasi jalur kereta api Rangkasbitung-Merak dapat diintegrasikan dengan pembangunan jalur kereta api ganda (double track) Rangkasbitung-Merak yang telah direncanakan Direktorat Jenderal Perkeretaapian hingga 2029. Menurutnya, elektrifikasi jalur tersebut dapat membuat KRL rute Tanah Abang-Rangkasbitung atau green line diperpanjang hingga Merak.