NADIKABAR.COM — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka peluang bagi rumah produksi asal Busan, Korea Selatan, untuk menggarap film di Jakarta sebagai bagian dari usulan kerja antara Jakarta Film Commission dan Busan Film Commission.
"Kami ingin menjajaki kerja sama antara Jakarta Film Commission dan Busan Film Commission, termasuk memberikan fasilitas dan peluang bagi rumah produksi Busan untuk melakukan produksi film di Jakarta," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno dalam keterangan resmi, Jumat.
Hal ini disampaikan Rano saat bertemu (courtesy call) dengan Wakil Wali Kota Busan, Kim Kyung-duk, di Busan, Korea Selatan, Rabu (7/10).
Dalam kesempatan itu, Rano menegaskan Jakarta memiliki komitmen dan kesiapan untuk membangun ekosistem perfilman yang berdaya saing internasional.
Sejumlah langkah konkret diambil untuk memperkuat fondasi tersebut, salah satunya melalui peluncuran Jakarta Film Commission (JFC) pada 26 Juni 2026 sebagai layanan terpadu untuk mendukung kegiatan produksi film dan audiovisual.
Melalui program Filming in Jakarta, Pemprov DKI Jakarta menyediakan fasilitasi lokasi syuting, koordinasi perizinan, serta pengembangan jejaring industri.
Pemprov DKI Jakarta juga menghadirkan sejumlah insentif, antara lain keringanan pajak tontonan film nasional dan biaya penggunaan lokasi produksi tertentu pada aset pemerintah daerah.
Dalam pertemuan tersebut, Rano juga mendorong kolaborasi antara Jakarta Film Week dan Busan International Film Festival melalui promosi bersama, pertukaran sineas muda, pemutaran film lintas kota, serta penguatan jejaring perfilman Asia.
Menurut dia, ruang kerja sama Jakarta dan Busan tidak terbatas pada industri film. Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga ingin menjajaki kerja sama di bidang gim, e-sport, musik, dan seni pertunjukan.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Kim berharap pertukaran antara Busan dan Jakarta di bidang film, gim, serta industri budaya lainnya semakin aktif.
Dia juga mengapresiasi kiprah Rano di dunia perfilman dan menyambut positif rencana Jakarta mengembangkan industri kreatif sebagai salah satu penggerak perekonomian kota."Saya mengetahui Jakarta memiliki rencana untuk memajukan industri perfilman," kata dia.
Menurut Kim, Busan telah menjadikan industri perfilman sebagai salah satu identitas kotanya. Sejak penyelenggaraan Busan International Film Festival (BIFF) pada 1996, kota tersebut berkembang menjadi salah satu pusat perfilman terkemuka di Asia.
Posisi tersebut semakin kuat setelah UNESCO menetapkan Busan sebagai UNESCO Creative City of Film pada 2014. Busan menjadi kota pertama di Asia yang memperoleh predikat tersebut.
Kim mengatakan Pemerintah Kota Busan memberikan dukungan sekitar separuh dari anggaran penyelenggaraan festival film internasional tersebut setiap tahun.
Dukungan itu, sambung dia, menjadi bagian dari komitmen Busan untuk memperkuat posisinya sebagai kota film di Asia sekaligus pusat perfilman dunia.