Marulina menegaskan, Duta Antihoaks Jakarta bukan sekadar kompetisi untuk memilih figur terbaik. Diskominfotik mencari anak muda yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi dan menggerakkan masyarakat agar semakin tangguh menghadapi hoaks dan disinformasi.

Karena itu, penilaian finalis tidak hanya melihat kreativitas dan kebaruan gagasan, tetapi juga relevansi terhadap persoalan nyata, kemampuan implementasi, komunikasi dan kepemimpinan, dampak, serta keberlanjutan program.

"Kami tidak mencari Duta Antihoaks yang hanya kuat di atas panggung. Kami mencari anak muda yang mampu berbicara dengan bahasa generasinya, turun ke masyarakat, dan mengubah pengetahuan menjadi gerakan. Setelah terpilih, pekerjaan mereka justru dimulai," tutur Marulina.

Sepuluh finalis merupakan hasil dari rangkaian seleksi dan pembinaan sejak Juli 2026. Dari 356 pendaftar, peserta melalui seleksi administrasi, seleksi bertahap, In House Training, hingga pembekalan penyusunan project campaign.

Para finalis kemudian menjalankan Proyek Kampanye Literasi Digital pada 28 Agustus-25 September 2026 sebelum mempresentasikan hasilnya di hadapan dewan juri.