NADIKABAR.COM — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menginginkan penyelenggaraan Bali-Timor Leste Business Forum di Denpasar, Bali, dapat memperkuat hubungan baik dan memperluas kerja sama strategis di antara keduanya.

"Dengan terselenggaranya forum bisnis Bali-Timor Leste ini, ke depan saya berharap Bali dan Timor Leste dapat maju bersama, saling mendukung, dan saling menopang dalam mewujudkan kemajuan. Kami siap melanjutkan dan memperkuat hubungan baik yang telah terjalin selama ini," kata Gubernur Bali Wayan Koster dalam keterangannya di Denpasar, Bali, Minggu.

Koster menyampaikan rasa bahagianya bisa duduk bersama dalam suasana hangat serta menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Timor Leste saat ini terjalin sangat baik karena didukung kedekatan geografis dan historis.

"Kami berharap setelah pertemuan ini, Bali dan Timor Leste dapat bekerja sama mengembangkan berbagai sektor potensial, khususnya pariwisata, pertanian, peternakan, dan perdagangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat," ujar Koster.

Orang nomor satu di Pemprov Bali itu juga memaparkan bahwa Bali dianugerahi kekayaan luar biasa seperti salak, jeruk, manggis, mangga, beras, ayam, dan babi, serta terus menjaga kemurnian sapi Bali dengan melarang masuknya ternak dari luar.

Di sektor pariwisata, tercatat sebanyak 4,6 juta wisatawan mancanegara berkunjung ke Pulau Dewata hingga 30 September 2026, dengan sekitar 30 ribu wisatawan di antaranya berasal dari Timor Leste.

Menteri Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan Republik Demokratik Timor Leste Marcos da Cruz menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia dan Pemprov Bali atas sambutan hangat serta dukungannya.

Ia menjelaskan bahwa forum bisnis ini membahas tiga pilar penting, yaitu Blue Economy, Green Economy, dan Gold Economy.

"Dalam pengembangan Green Economy, Timor Leste memiliki lahan pertanian yang subur dan luas dengan berbagai komoditas, namun kami masih menghadapi tantangan kualitas sumber daya manusia, sehingga ingin belajar mengelolanya dari Bali," kata Marcos.

Terkait Blue Economy, Timor Leste memiliki potensi stok ikan sekitar 700 ribu ton per tahun yang belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung perekonomian.

Melalui pilar Gold Economy, Pemerintah Timor Leste mengajak sejumlah pengusaha untuk berdiskusi dan melihat langsung pengembangan bisnis di Bali agar dapat diterapkan di negaranya.

"Berbagai praktik baik yang kami temukan di Bali diharapkan dapat diterapkan di Timor Leste dengan menyesuaikan peluang dan potensi yang ada," tutur Marcos.