Ia mencontohkan fasilitas budidaya maggot yang membutuhkan sampah organik terpilah. Ketika sampah masih bercampur dengan plastik dan material lain, fasilitas tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.
"Sehebat apa pun teknologinya, kuncinya tetap human capital, sumber daya manusia. Urusan perilaku tidak seperti membalikkan telapak tangan, tetapi harus dilakukan," katanya.
Karena itu, strategi Pemda Provinsi Jabar dilakukan melalui dua pendekatan sekaligus, yakni technology engineering dan social engineering. Teknologi terus dikembangkan, sementara perubahan perilaku masyarakat didorong secara masif melalui edukasi dan pendampingan langsung.
Herman mengatakan, seluruh langkah tersebut diharapkan dapat memberikan ruang bagi Pemda Provinsi Jabar untuk memperpanjang masa operasional TPA Sarimukti hingga Desember 2029. Sebelum akhirnya pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Waste to Energy (WTE) di TPPAS Legok Nangka resmi beroperasi penuh pada 2030 sebagai solusi jangka panjang.
"Harapan Pak Gubernur, Sarimukti bisa operasional sampai Desember 2029. Kami sedang upayakan hulu, tengah dan hilir," ujarnya.
Menurut ia, persoalan sampah Bandung Raya tidak lagi bisa dipandang sebagai urusan pemerintah semata. Partisipasi masyarakat menjadi faktor penting karena sebagian besar persoalan bermula dari sumber sampah itu sendiri.
Herman mencontohkan masih ditemukannya timbulan sampah di sejumlah titik yang sekilas terlihat bersih, tetapi ternyata terdapat timbunan sampah yang disembunyikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut sampah dari satu tempat ke tempat lain.