Luthfi mengatakan, strategi tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, Bank Indonesia, BUMN, BUMD, serta dinas terkait.
Selain menjaga keterjangkauan harga, GPM juga diharapkan membantu pengendalian inflasi di Jateng.
"Ketersediaan bahan pokok penting bagi masyarakat, begitu juga dengan keterjangkauan harga. Sehingga Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi yang inflasinya bisa terkendali," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jateng, Mohamad Noor Nugroho menyampaikan, inflasi Jateng berada di angka 3,18 persen, lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 3,28 persen.
Ia menyampaikan, bahwa meski relatif terkendali, stabilitas harga pangan masih menghadapi tantangan El Nino, serangan hama tikus, biaya distribusi, serta peningkatan permintaan pada waktu tertentu.