NADIKABAR.COM — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menggenjot tingkat konsumsi ikan di masyarakat, dengan mendorong penguatan rantai distribusi ikan segar dari kawasan pesisir menuju daerah tengah.

"Inilah yang harus kita gerakkan, bagaimana ikan-ikan segar bisa masuk ke daerah tengah Jawa Tengah," kata Sekretaris Daerah Jateng Sumarno saat Sosialisasi Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Gedung Grhadika Bhakti Praja, Semarang, Rabu.

Dengan penguatan rantai distribusi ikan segar dari kawasan pesisir menuju daerah tengah Jateng, kata dia, diharapkan masyarakat lebih terbiasa mengonsumsi ikan segar.

Menurut dia, masih belum optimalnya konsumsi ikan di Jateng tidak semata-mata disebabkan persoalan harga maupun ketersediaan.

Ia mengatakan bahwa faktor budaya masyarakat yang selama ini lebih terbiasa mengonsumsi daging dan ayam turut menjadi tantangan. Seperti masyarakat di wilayah tengah Jateng, seperti kawasan Solo dan Boyolali yang secara turun-temurun belum terbiasa mengonsumsi ikan segar sehingga yang lebih mudah dijumpai justru dalam bentuk olahan atau ikan yang diawetkan.

Ia menilai penguatan rantai distribusi menjadi salah satu kunci untuk mengubah kebiasaan tersebut.

Pemerintah, kata dia, perlu melibatkan pelaku usaha perdagangan agar ikan hasil tangkapan maupun budi daya dari wilayah pesisir dapat lebih mudah menjangkau masyarakat di daerah tengah.

Dari sisi produksi, diakuinya, Jateng memiliki potensi perikanan yang besar, dengan produksi ikan budi daya disebut mendekati 500 ribu ton, sementara hasil tangkapan juga berada di kisaran 500 ribu ton.