Rombongan juga melihat main area ceremonial dan menara pandang serta jembatan gantung. Dari titik-titik tersebut, pemerintah pusat dan daerah melihat secara langsung kesiapan sarana pendukung pengelolaan kawasan sekaligus upaya memperkuat edukasi dan konservasi gajah Sumatera.

Setelah meninjau sejumlah fasilitas utama, Mirza dan Raja Juli melanjutkan perjalanan singkat menuju area UMKM di kawasan TNWK. Area tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungan untuk melihat keterkaitan antara kegiatan konservasi dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

TNWK merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Lampung yang memiliki ekosistem hutan dataran rendah dan menjadi habitat satwa liar, termasuk gajah Sumatera. Dokumen Kemenhut mencatat TN Way Kambas sebagai salah satu lokasi aksi mitigasi di Provinsi Lampung yang memerlukan kegiatan monitoring dan evaluasi berkelanjutan.

Upaya penanganan interaksi manusia dan satwa liar menjadi penting karena keberadaan gajah tidak hanya berkaitan dengan perlindungan satwa, tetapi juga menyangkut keamanan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan hutan.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung bersama Kemenhut sebelumnya juga telah mengembangkan berbagai pendekatan dalam penanganan konflik satwa liar, termasuk pemantauan pergerakan satwa dan penguatan pengelolaan kawasan.

Dalam dokumen Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) Kemenhut, pemasangan GPS collar disebut sebagai salah satu strategi untuk menangani konflik manusia dan gajah liar sekaligus mempelajari pergerakan satwa.

Dalam kunjungan tersebut, Mirza turut memastikan pemerintah daerah (pemda) terlibat dalam penguatan koordinasi dengan pemerintah pusat dalam pengelolaan kawasan konservasi.