"Kolaborasi tersebut diperlukan agar upaya perlindungan satwa dapat berjalan beriringan dengan kepentingan masyarakat di sekitar kawasan," kata Mirza.

Secara ekologis, TNWK memiliki posisi penting sebagai kawasan konservasi di Lampung. Data Kemenhut mencatat kawasan TNWK dalam berbagai program konservasi dan pemulihan ekosistem, termasuk pengembangan pengelolaan kawasan serta pelibatan masyarakat.

Bagi Lampung, penguatan mitigasi interaksi gajah tidak hanya bertujuan menjaga keberlangsungan populasi gajah Sumatera, tetapi juga mengurangi potensi gangguan terhadap masyarakat di sekitar kawasan.

Pengelolaan yang semakin baik diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara perlindungan satwa, kelestarian hutan, dan aktivitas sosial-ekonomi warga.

Sebagai informasi, acara ini juga turut dihadiri oleh sejumlah pejabat Kemenhut, di antaranya Dirjen KSDAE, Staf Ahli Menteri, serta sejumlah direktur terkait konservasi dan pengelolaan kawasan.

Perwakilan Kedutaan Besar Norwegia juga turut hadir dalam kunjungan tersebut. Mereka antara lain Ambassador Kaja Glomm serta perwakilan bidang iklim dan kehutanan Anja Lillegraven, Livia Costa Kramer, dan Susilo Ady Kuncoro.

Kehadiran perwakilan Norwegia dalam agenda tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap isu kehutanan, konservasi, iklim, dan pengelolaan ekosistem dalam rangkaian kunjungan di Lampung. Namun, agenda utama kunjungan tetap berfokus pada peninjauan progres mitigasi interaksi negatif gajah Sumatera di TNWK.