Dia melanjutkan pengembangan tersebut dilakukan sebab dari 10 hektare tanaman kopi yang ada, seluas 6 hektare merupakan tanaman kopi yang telah berusia 15-20 tahun sehingga kurang produktif.

"Tanaman tua ini disambung dengan klon unggul hasil pengembangan petani lokal agar bisa produktif lagi," tambahnya.

Menurut dia, sebelumnya sejumlah tanaman kopi di Kebun Induk Hanakau telah ada yang dikembangkan dengan sejumlah klon unggul lokal serta telah produktif kembali.

"Tanaman kopi yang disambung dengan klon unggul lokal ada yang sudah berbuah, padahal baru berusia dua tahun. Jadi dengan adanya koleksi klon unggul lokal ini bisa menambah variasi produksi kopi robusta Lampung," tambahnya.