Menjelaskan fenomena ini, teori Post-Materialism dari Ronald Inglehart membantu kita memahami bagaimana pergeseran nilai generasi terjadi. Ketika generasi terdahulu terfokus pada stabilitas ekonomi konvensional dan institusi formal, generasi muda modern menggeser prioritas mereka pada nilai-nilai pasca-material: kualitas hidup, keadilan ekologis, kebebasan berekspresi, dan hak atas informasi. Generasi yang tumbuh di tengah keterbukaan media digital ini terpapar realitas global secara real-time, membuat mereka makin kritis dan responsif dalam membandingkan antara retorika elit dengan realitas empiris.
Namun, menegemukanya gerakan berbasis isu ini berjalan seiring dengan melorotnya keabsahan institusi politik formal. Berbagai studi global muulai dari Cambridge Centre for the Future of Democracy (2020) hingga Harvard Youth Poll (2025) yang merekam depresi sistemik kaum muda terhadap demokrasi konvensional dan polarisasi dua partai di AS akibat ketimpangan ekonomi serta ketidakmampuan negara menjamin kebutuhan mendasar seperti perumahan dan lapangan kerja.
Krisis legitimasi ini terefleksi kuat di Indonesia. Kajian IMGR (2025) dan survei Katadata (2024) mengonfirmasi menguatnya ketidakpercayaan anak muda terhadap lembaga politik yang dipicu oleh patologi korupsi, marjinnya penegakan hukum, dan minimnya transparansi. Riset ini juga mengonfirmasikan mengapa hanya 8,7% dari mereka yang berminat masuk ke dalam struktur partai politik. Generasi muda bukannya apatiis tetapi mereka justru sedang memutus harapan pada wadah politik lama yang dinilai gagal menjawab risiko zaman.
Fenomena ini memberikan pesan tegas bagi partai politik untuk beradaptasi secara kelembagaan. Rendahnya minat masuk partai bukanlah sinyal mati rasa terhadap urusan publik, melainkan bentuk pergeseran dari loyalitas partai yang kaku (party identification) menuju keterlibatan berbasis isu (issue-driven engagement). Anak muda boleh jadi enggan terjebak dalam birokrasi partai, tetapi mereka tetap aktif mengawal kebijakan, menggalang solidaritas, dan menyuarakan kritik secara mandiri.