NADIKABAR.COM — Iran kembali menyampaikan penegasan kepada Amerika Serikat (AS) bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali jika syarat-syarat yang diajukan Teheran telah dipenuhi oleh Washington. Iran juga menyatakan pihaknya siap untuk melanjutkan negosiasi, meskipun juga siap untuk bertempur lagi.
Teheran menyatakan bahwa persyaratan yang dimaksud, yang disebutkan ada tujuh syarat, telah ditetapkan dalam kesepakatan sementara -- atau Nota Kesepahaman (MoU) -- antara kedua negara yang diteken pada Juni lalu, dengan dimediasi Pakistan.
Penegasan tersebut, seperti dilansir Reuters, Senin (5/10/2026), disampaikan oleh ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga negosiator utama Teheran dalam perundingan dengan Washington.
"Posisi Republik Islam Iran sangat jelas dan tegas, dan Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai tujuh syarat kami, yang didasarkan pada Nota Kesepahaman Islamabad, telah dipenuhi," tegas Ghalibaf dalam pernyataan terbarunya pada Minggu (4/10) waktu setempat.
Dia mengatakan bahwa Washington "harus memahami bahwa periode untuk mengulur-ulur proses (diplomatik) dan mendikte tuntutan sepihak sudah berakhir".
Pernyataan Ghalibaf itu disampaikan setelah Iran mengajukan usulan terbaru dalam pertemuan dengan AS di New York dua pekan lalu, di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB. Usulan itu menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pemulihan lalu lintas maritim dalam waktu tujuh hari jika syarat-syarat Iran dipenuhi AS.
Dilaporkan bahwa Washington telah memberikan tanggapan terhadap usulan Teheran itu pekan lalu, melalui mediator Qatar. Tanggapan AS itu tidak diungkapkan ke publik, namun Presiden Donald Trump telah mengakui kepada wartawan bahwa dirinya menolak usulan terbaru Iran karena persyaratannya tidak bisa diterima.
Syarat-syarat yang diajukan Teheran itu mencakup penghentian total permusuhan di semua front, termasuk Lebanon, kemudian pencairan dana Iran yang dibekukan, dan diakhirinya blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ghalibaf: Iran Siap Negosiasi, Tapi Juga Siap Bertempur
Saat berbicara kepada parlemen pada Minggu (4/10), seperti dilansir Anadolu Agency dan Middle East Monitor, Ghalibaf mengatakan bahwa Iran "tidak merasa gentar atau terintimidasi" oleh tindakan-tindakan AS.
Ghalibaf bahkan menegaskan kesiapan Teheran untuk "bertempur maupun bernegosiasi" dengan Washington.
"Kita hadir di medan pertempuran militer dengan mengerahkan seluruh kekuatan dan akan menghadapi mereka dengan kejutan-kejutan baru, dan kita juga memanfaatkan diplomasi untuk menegaskan keunggulan kita di bidang militer dan memperjuangkan hak-hak rakyat Iran," kata Ghalibaf di hadapan parlemen Iran, sebagaimana dikutip kantor berita Tasnim.
Pernyataan serupa disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi saat berbicara kepada para Duta Besar dan diplomat asing di Teheran pada Minggu (4/10) waktu setempat.
Araghchi mengatakan bahwa Iran berharap AS akan memilih jalur diplomasi, namun dia juga memperingatkan jika Teheran siap memberikan tanggapan jika Washington kembali memilih tindakan militer.
"Jika mereka kembali beralih ke solusi militer, kami jauh lebih siap dibandingkan sebelumnya dan akan mengambil tindakan apa pun yang diperlukan untuk membela diri kami," tegasnya, seperti dilansir Reuters.
Sejumlah sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Iran sedang mempersiapkan respons yang lebih luas dan lebih dahsyat jika AS kembali melancarkan serangan militer berskala besar. Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, mengatakan kepada kantor berita Fars bahwa Teheran akan meningkatkan jangkau rudal-rudalnya.