NADIKABAR.COM — Kebijakan penurunan kandungan tar-nikotin pada rokok diperkirakan berdampak terhadap sektor hulu pertembakauan yakni petani hingga tenaga kerja industri hasil tembakau.

Ketua Kajian Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (PPKE FEB UB) Prof Candra Fajri Ananda, di Jakarta, Jumat, menyatakan volume tembakau domestik yang berpotensi tidak terserap berkisar antara 8.500-23.700 ton, dengan estimasi kehilangan pendapatan petani sebesar Rp115,5 miliar hingga Rp322,0 miliar.

Dalam kajian bertajuk "Implikasi Penurunan Kadar Tar Nikotin serta Pembatasan Varian Rasa di Indonesia", dia menyatakan paparan dampaknya diperkirakan mencakup 81.880-228.390 petani serta 128.820-220.840 tenaga kerja.

"Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan pembatasan kadar tar-nikotin pada rokok dapat mempengaruhi kebutuhan bahan baku dan aktivitas ekonomi di sepanjang rantai industri tembakau," ujar Candra dalam keterangannya.