Penelitian tersebut mencatat ada 35 persen pekerja mengalami heat strain dan 30 persen pekerja kehilangan produktivitas.
"92,3 persen responden dalam survei ini melaporkan kerja mereka melambat karena panas," kata Safarina G. Malik.
Sementara penelitian lainnya di 21 negara, menemukan bahwa hawa panas menaikkan suhu tubuh, denyut jantung, dan dehidrasi.
"Tidak heran mereka sangat tidak produktif dan lelah. Namun para pekerja tetap bekerja lebih keras dari yang seharusnya karena mereka harus memenuhi kebutuhan pangan, rumah tangga, dan tempat tinggal," kata peneliti senior di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman pada 1994 - 2021 ini.