Natasya menilai kesiapsiagaan juga perlu dibangun secara inklusif dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, seperti kader kesehatan, kelompok perempuan, organisasi penyandang disabilitas, kelompok pemuda, masyarakat adat, dan organisasi masyarakat sipil. Keterlibatan tersebut, kata dia, dapat dilakukan mulai dari pemetaan kebutuhan sebelum bencana, simulasi kebencanaan, penyusunan rencana kontingensi, hingga evaluasi respons setelah bencana.

β€œDengan demikian, manajemen bencana tidak hanya bergerak ketika krisis telah terjadi, tetapi juga mampu mengantisipasi risiko dan memastikan kebutuhan kelompok rentan telah diperhitungkan sejak awal,” ucapnya.

Berikutnya, Natasya menambahkan kesiapsiagaan perlu menjadi budaya bersama agar masyarakat tidak selalu menunggu bantuan setelah bencana terjadi, tetapi telah memiliki kapasitas untuk melindungi diri dan orang-orang di sekitarnya dari risiko bencana.