Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders, tingkat kebugaran diukur melalui lari sejauh 1,6 km dan lompat jauh dari posisi berdiri, dengan beberapa partisipan juga menjalani tes bersepeda dan kekuatan genggaman tangan. Lebih dari 30 tahun kemudian, mereka mengikuti wawancara diagnostik dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengevaluasi riwayat depresi seumur hidup.
Penulis utama Kylie Smith dari Menzies Institute for Medical Research di UTAS menyebutkan temuan-temuan itu tidak menunjukkan bahwa tingkat kebugaran yang buruk pada masa kanak-kanak menyebabkan depresi saat dewasa, melainkan mengindikasikan bahwa kebugaran pada masa kanak-kanak dapat memberikan manfaat di luar kesehatan fisik.
"Kebugaran mungkin menjadi salah satu bagian dari teka-teki," dan depresi memiliki banyak faktor yang berkontribusi, ujar Smith, seraya menambahkan bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami jalur hubungan antara kebugaran pada masa kanak-kanak dan depresi.