Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai komitmen tuan rumah Malaysia dan Federasi Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEAGF) dalam menjaga prinsip keadilan bagi seluruh negara peserta.
Krisna yang juga menjabat Komite Eksekutif NOC Indonesia menilai persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut pencoretan cabang atau pengurangan nomor pertandingan, melainkan juga berkaitan dengan keadilan bagi atlet, masa depan olahraga, dan martabat negara-negara Asia Tenggara.
Ia pun mempertanyakan apakah perubahan program pertandingan setiap kali tuan rumah berganti telah mempertimbangkan kepentingan seluruh negara peserta.
"SEA Games dibangun untuk persahabatan, solidaritas, persaingan sehat, dan semangat fair play. Bukan untuk menjadi panggung yang lebih menguntungkan kepentingan tuan rumah," katanya.