NADIKABAR.COM — Managing Director Energy Shift Institute (ESI) Putra Adhiguna menilai Indonesia menjanjikan sebagai tujuan investasi pusat data atau data center melalui insentif kompetitif, listrik andal, dan transisi energi bertahap.
Menurut Putra, pemerintah dapat memperkuat daya tarik investasi pusat data dengan merancang insentif yang tetap mengedepankan nilai tambah domestik sehingga manfaat ekonomi lebih besar dirasakan Indonesia.
"Indonesia negara menjanjikan untuk pasar DC (data center), tetapi insentif harus berpijak pada unsur keadilan nilai tambah dalam negeri dan transisi yang lebih hijau, termasuk dalam sumber energinya," kata Putra dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.
Dia menyampaikan hal itu merespon pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menawari para investor untuk memanfaatkan pulau-pulau di Indonesia guna membangun data center atau pusat data.
Putra mendorong agar pemberian insentif tidak hanya diberikan berdasarkan besarnya nilai investasi, melainkan harus dikaitkan dengan kontribusi terhadap penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Menurutnya, industri pusat data menciptakan lapangan kerja permanen yang relatif terbatas, sekitar 15 pegawai untuk setiap investasi senilai 100 juta dolar Amerika Serikat (AS), sehingga manfaat ekonominya perlu diukur secara lebih menyeluruh.
Karena itu, Putra menilai pemerintah perlu memastikan setiap pemberian insentif benar-benar didasarkan pada bukti kontribusi terhadap perekonomian nasional agar kebijakan tersebut tetap adil dan efektif.