Di sisi lain, ia mengatakan investor pusat data memiliki kebutuhan yang beragam, mulai dari harga listrik yang kompetitif hingga ketersediaan energi bersih untuk mendukung operasional jangka panjang.

Namun demikian, Putra menilai keandalan pasokan listrik tetap menjadi pertimbangan utama investor sehingga PT PLN perlu memastikan sistem kelistrikan mampu memenuhi pertumbuhan kebutuhan pusat data tanpa mengganggu layanan kepada masyarakat maupun industri lainnya.

Ia juga mendorong pemerintah mengarahkan pengembangan pusat data menuju penggunaan energi hijau secara bertahap, misalnya melalui target pemanfaatan energi bersih sebesar 30 persen, kemudian meningkat menjadi 50 persen hingga 70 persen.

Menurut Putra, pendekatan bertahap tersebut lebih realistis dibanding langsung mewajibkan penggunaan 100 persen energi bersih, sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk berinvestasi.

"Dengan cara itu maka pelaku usaha diberikan sebuah dorongan yang lebih terukur dan data center tidak menjadi alasan untuk ekspansi PLTU dan justru menghambat transisi bersih," tuturnya.

Ia menambahkan kombinasi insentif yang dikaitkan dengan nilai tambah domestik, pasokan listrik yang andal, dan peningkatan penggunaan energi bersih akan memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi pusat data yang kompetitif dan berkelanjutan.