"Ekstremisme dan radikalisme yang mendorong kebencian dan kekerasan perlu dihadapi bukan hanya dengan pendekatan keamanan, tetapi juga melalui pendidikan, literasi, dialog serta penguatan ketahanan sosial," kata dia.
Direktur Amir Mahmud Center itu mengatakan pendekatan keamanan diperlukan ketika ujaran kebencian telah berkembang menjadi tindakan fisik bersenjata. Sementara pada tahap wacana dan propaganda, literasi dan dialog menjadi instrumen penting untuk mencegah berkembangnya paham intoleran.
"Sepanjang masih dalam bentuk ujaran kebencian atau ketidaksukaan, ini hanya bisa dihadapi dengan cara literasi dan dialog," ujar Amir.
Amir juga mendorong penguatan Pancasila tidak berhenti pada tingkat elite, tetapi menjangkau masyarakat hingga tingkat kelurahan melalui focus group discussion (FGD) dan forum diskusi terbuka yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang.
"Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk mengenali bahwa narasi intoleransi, radikalisme, dan terorisme itu berpotensi merusak tatanan sosial berbangsa dan bernegara," ujar Amir.
Ia menilai upaya menghadapi ideologi transnasional dan politik pecah belah perlu diarahkan pada penguatan kesadaran kebangsaan, bukan dengan menciptakan kebencian baru terhadap kelompok yang berbeda.