Kegiatan belajar di pondok untuk sementara diliburkan guna memberikan waktu bagi para santri untuk beristirahat dan memulihkan kondisi.
Selain penanganan medis, santri juga mendapat asupan tambahan dan minuman seperti teh hijau. Namun, kondisi mereka tetap dipantau oleh petugas kesehatan.Bahron menyebut terdapat 88 pasien yang masih menjalani rawat inap di sembilan rumah sakit. Menurutnya, kondisi seluruh pasien tersebut terus membaik.
Pihak Ponpes Manba'ul Hikam menduga kejadian tersebut berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi bersama. Dugaan itu diperkuat dengan adanya santri serta sejumlah guru dan pengurus yang mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Meski demikian, Bahron menegaskan evaluasi perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari bahan baku, proses pengolahan hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh penerima manfaat.
"Secara administrasi SPPG memang baik. Tapi pelaksanaan di lapangan perlu dievaluasi dan dikontrol lebih ketat. Mulai dari cara pengolahan, kualitas bahan baku, penanganan, pengiriman sampai penyajian," jelasnya.
Pihak pesantren tetap menyatakan dukungan terhadap program MBG. Namun, mereka meminta adanya jaminan mutu dan keamanan pangan yang lebih ketat pada setiap tahapan pelaksanaan.
"Program pemerintah tetap kami dukung. Tetapi mutu dan keamanan makanan harus benar-benar dijamin, bukan hanya administrasinya yang baik," kata Bahron.