NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan pengawasan kualitas infrastruktur digital memainkan peranan penting untuk mencegah terjadinya gap atau kesenjangan konektivitas digital di perkotaan dan perdesaan.
Hal itu disampaikannya agar dapat dilakukan oleh para petugas di Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio dan Infrastruktur Digital (Balmon SFRID) yang berada di bawah naungan Kemkomdigi untuk mendukung Visi Indonesia Digital (VID) 2045.
“Kalau kita lihat secara kuantitatif, memang sudah tergelar, tetapi belum berfungsi optimal. Masih ada kesenjangan infrastruktur yang harus kita atasi,” kata Nezar dalam keterangannya yang diterima dan dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Hal itu juga disampaikan Nezar saat berdiskusi bersama para sumber daya manusia (SDM) yang bertugas di Balai Besar Pelatihan SDM Komdigi Makassar, Sulawesi Selatan.
Nezar mengatakan saat ini cakupan jaringan telekomunikasi dalam angka sudah mendekati 99 persen, namun kondisi realitanya di lapangan kualitas jaringan telekomunikasi tersebut masih belum optimal terutama di daerah-daerah yang tidak menarik secara komersil.
Maka dari itu, petugas Balmon SFRID memiliki peranan penting untuk memastikan pengawasan dan evaluasi jaringan telekomunikasi benar-benar dilakukan di lapangan.
Dengan pemantauan langsung tersebut, petugas dapat lebih mudah menemukan kendala seperti menara jaringan yang tidak berfungsi atau menemukan penyebab gangguan jaringan.
Atas hal tersebut, Balmon SFRID artinya tidak hanya memantau utilisasi frekuensi saja tapi juga memantau kualitas penyelenggaraan layanan untuk memastikan cita-cita Pemerintah menghadirkan konektivitas yang bermakna bagi masyarakat (meaningful connectivity) terpenuhi.
“Pengawasannya bukan hanya frekuensi dan spektrum, tetapi juga infrastruktur digital,” ujar Nezar.
Nezar mengingatkan infrastruktur digital di masa ini sudah seharusnya menghasilkan konektivitas bermakna yang artinya konektivitas hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Karena itu, jaringan yang tersedia perlu mendukung kegiatan ekonomi, pendidikan, komunikasi sosial, layanan keuangan, dan kesehatan, bukan sekadar tercatat sebagai infrastruktur yang telah dibangun.
Wamen Nezar menambahkan pemanfaatan infrastruktur digital juga membutuhkan penguatan sumber daya manusia. Hal ini juga yang mendorong pengawasan infrastruktur dan pengembangan talenta perlu berjalan beriringan dalam mendukung transformasi digital nasional.
Kemkomdigi menargetkan pemenuhan sekitar 9 juta talenta digital pada 2030 agar konektivitas dapat mendorong produktivitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.
“Kita membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital pada 2030 untuk memanfaatkan konektivitas bagi kegiatan ekonomi, pendidikan, layanan keuangan, kesehatan, dan berbagai bidang lainnya,” Nezar menutup pernyataannya.