Setelah limbah menghasilkan lemak, bahan tersebut masuk dalam tahap formulasi dan fermentasi sebelum akhirnya dikemas. Seluruh proses produksi melibatkan warga binaan, dan PT Mandraguna mengambil peran pada aspek legalitas, pemasaran, serta pengendalian kualitas produk.
"Awalnya mungkin hubungan kami dengan lapas dari persahabatan. Ketemu sering, diskusi soal pupuk di komunitas. Lalu ada kesamaan visi dan akhirnya kita mengadakan kerja sama," tutur Nazmul.
Kerja sama itu baru dijajaki sekitar tiga bulan lalu dan produksi berjalan sekitar dua bulan terakhir.Solusi atas Masalah Lama Garut
Kehadiran produk pupuk asam amino yang dikerjakan para napi dilatarbelakangi dari persoalan yang jauh lebih lama. Garut dikenal sebagai salah satu sentra industri kulit, namun limbahnya menjadi persoalan lingkungan yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Pemilik PT Mandraguna Pusaka Indonesia, Rian, menyebut persoalan itu tidak sederhana karena industri kulit telah menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat dan menghidupi banyak UMKM.
"Isu industri kulit di Kabupaten Garut klasik karena berkaitan dengan kultur dan budaya dari dulu. Bahkan sampai hari ini banyak UMKM yang hidup," terang Rian.
Menurutnya, besarnya volume limbah membuat penanganannya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Dari persoalan tersebut, Mandraguna mengembangkan formula untuk mengolah limbah kulit sapi dan domba menjadi pupuk organik cair berbasis asam amino sehingga yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan, kini memiliki nilai ekonomi.
"Terbayangkan selama puluhan tahun masalah limbah ini tidak pernah terselesaikan, sekarang malah jadi manfaat nggak hanya terhadap lingkungan, tapi menjadi ekonomi sirkular," ujar Rian.
Rian mengklaim produk tersebut dapat membantu efisiensi penggunaan pupuk sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian. Sebelum dipasarkan secara luas, menurut dia, produk tersebut telah digunakan untuk tanaman jagung di kawasan food estate Gunung Mas, Kalimantan Tengah.