Kalapas Kelas IIA Garut Rusdedy mengatakan permintaan dari Trubus mencapai sekitar dua juta liter dalam setahun. Artinya kebutuhan produksi rata-rata berada di kisaran 5.000 liter perhari.
Kapasitas produksi yang telah dicapai saat ini, menurut Rusdedy, mencapai 12.000 liter."Ini baru pemasaran online," kata Rusdedy.
Lapas juga berencana mengembangkan pemasaran secara offline dengan menyasar petani menggunakan merek yang dikembangkan lapas. Namun, skala pengolahan limbah yang berjalan saat ini masih relatif kecil dibandingkan persoalan limbah industri kulit di Garut.
Rusdedy memperkirakan fasilitas yang ada baru mampu menyerap sekitar dua persen limbah dari perajin kulit. Target berikutnya adalah meningkatkan kapasitas hingga mampu menampung sekitar 20 persen.
"Kami siap olah limbah seluruh Garut kalau dari pemda memfasilitasi," ujarnya.
Menimpali Rusdedy. Rian juga berharap model tersebut tidak berhenti di Garut. Persoalan limbah industri kulit, menurut dia, ditemukan pula di sejumlah sentra industri di daerah lain, mulai dari Rancaekek, Cianjur, Banten, Solo, Magelang, Yogyakarta hingga beberapa daerah di Jawa Timur.
"Kita jadikan produk pupuk organik cair ini ada nilai ekonomis dan manfaat untuk petani. Kita menciptakan produk ini sampai kita jadi pelopor pupuk organik berbahan limbah kulit sapi dan domba satu-satunya di Indonesia. Pupuk organik selama ini diciptakan dari daun kotoran hewan," harap Rian.
Terakhir, Rian mengklaim tiga keunggulan pupuk asam amino berbahan dasar limbah kulit sapi dan domba. Pertama, memberikan efisiensi pemakaian pupuk pada petani. Kedua, meningkatkan produktivitas 30-100 persen hasil tani. Ketiga adalah ini kita ciptakan pangan yang lebih sehat karena ini berbasis organik.
"Karena sebelum dijual umum kita kasih untuk food estate di Gunung Mas Kalimantan Tengah untuk tanaman jagung. Terbayangkan selama puluhan tahun masalah limbah ini tidak pernah terselesaikan, sekarang malah jadi manfaat nggak hanya terhadap lingkungan, tapi menjadi ekonomi sirkular," pungkas Rian.