"Ada kemungkinan juga waktu di CCTV warga tidak terkalibrasi seperti di sensor BMKG. Gelombang kejutnya terekam sekitar pukul 00.18 Wita di Gorontalo. Namun gelombang kejutnya masih terasa sampai Kotamobagu pada pukul 00.20 Wita," tuturnya.

Menurutnya, perbedaan waktu tersebut menjelaskan mengapa tidak ditemukan laporan serupa mengenai dentuman maupun cahaya terang di sejumlah wilayah Sulawesi Utara. Selisih sekitar dua menit diperkirakan merupakan waktu yang dibutuhkan gelombang kejut untuk merambat dari Gorontalo menuju Kotamobagu.

"Dengan membandingkan efek getarannya dengan kejadian di Bone yang disebabkan asteroid berukuran sekitar 10 meter, secara kasar meteor/asteroid penyebab dentuman dan kilatan di Gorontalo ditaksir sekitar 10 meter juga," jelasnya