NADIKABAR.COM — Jumlah pemuda Jerman yang mengajukan surat penolakan resmi untuk bertugas di angkatan bersenjata Jerman, Bundeswehr, mencapai 12.102 orang pada tahun 2026, lebih dari tiga kali lipat angka penolakan di 2025.

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius sebelumnya mengatakan hanya sekitar 20 persen pria berusia wajib militer, yang menerima kuesioner sebagai bagian dari proses pendaftaran militer, menyatakan kesediaan mereka untuk bertugas di Bundeswehr.

Seperti dilaporkan surat kabar Berliner Morgenpost yang mengutip data resmi, Senin (5/10), gelombang penolakan besar-besaran itu dipicu oleh pemberlakuan undang-undang (UU) baru tentang wajib militer (wamil) di Jerman.

Laporan itu juga mencatat adanya lonjakan tajam dalam jumlah pemuda yang menolak wajib militer atas dasar keyakinan. Jumlah total penolakan tersebut diprediksi akan mencapai 20.000 pada tahun ini.

Parlemen Jerman atau Bundestag telah mengesahkan UU yang tetap menjadikan wajib militer di Bundeswehr sebagai tindakan sukarela bagi warga Jerman.

Pada saat yang sama, Jerman memberlakukan pendaftaran wajib militer melalui pemeriksaan kesehatan wajib bagi semua pria berusia 18 tahun.

UU tersebut juga memungkinkan pemberlakuan kembali wajib militer, yang sempat ditangguhkan pada 2011, apabila jumlah sukarelawan tidak mencukupi atau situasi keamanan memburuk.

Dalam hal itu, Bundestag dapat mengaktifkan kembali wajib militer berdasarkan kebutuhan, dengan sebagian kebutuhan itu bisa diisi melalui sistem acak.