"Dalam satu latihan, pegas bisa membantu menopang tubuh sehingga kita dapat lebih fokus pada kualitas gerakan. Di latihan lain, tegangan yang sama justru menjadi resistensi yang harus kita kontrol," jelas Camila. Karena carriage terus bergerak, tubuh juga harus mengontrol gerakan saat mendorong maupun saat kembali ke posisi awal. Inilah yang membuat Reformer Pilates sering terlihat lebih ringan dari kenyataannya. "Orang melihat gerakannya yang perlahan dan terkontrol lalu mengira mudah. Padahal justru karena gerakannya lambat dan penuh kontrol, latihannya terasa menantang. Kita tidak bisa bersembunyi di balik momentum," ujarCamila.

Bagi Camila, Pilates tidak harus menggantikan olahraga yang sudah disukai seseorang. Justru sebaliknya, Pilates dapat menjadi pelengkap bagi pelari, weightlifter, golfer, pemain olahraga raket, penari, maupun mereka yang rutin berlatih di gym. Pelari, misalnya, terbiasa bergerak dominan ke arah depan dan dapat menemukan tantangan baru ketika Pilates memperkenalkan gerakan rotasi dan lateral. Mereka yang terbiasa mengangkat beban juga sering terkejut ketika diminta bergerak secara presisi tanpa mengandalkan beban berat. Sementara olahraga seperti golf dan racket sports memiliki pola rotasi berulang yang dapat dilengkapi dengan latihan kontrol dan keseimbangan tubuh. "Pilates memang punya peran dalam rehabilitasi, dan tentu ada unsur stretching di dalamnya. Tetapi kalau Pilates hanya dipahami sebatas itu, kita kehilangan gambaran besarnya. Ini adalah metode latihan yang juga membutuhkan strength, coordination, dan control," papar Camila. Bukan Sekadar Tren atau 'Hot Girl Workout'

Popularitas Pilates di media sosial turut melahirkan anggapan bahwa olahraga ini hanya cocok untuk kelompok tertentu. Bagi Camila, persepsi tersebut lebih banyak lahir dari bagaimana Pilates terlihat dari luar dibandingkan apa yang sebenarnya terjadi selama latihan. "Saya justru lebih suka kalau seseorang datang dengan menganggap Pilates akan mudah, lalu keluar dari kelas dengan rasa terkejut, daripada mereka merasa Pilates bukan untuk mereka dan akhirnya tidak pernah mencoba," ujarnya. Pilates dapat diterapkan pada berbagai usia dan latar belakang kebugaran. Bagi peserta yang lebih muda, fokusnya mungkin pada performa dan kekuatan. Bagi kelompok usia yang lebih matang, manfaat latihan dapat bergeser pada kemampuan menjaga keseimbangan, kontrol sendi, dan kemandirian dalam bergerak. Dengan pendampingan yang tepat, remaja pun dapat mulai mengenal body awareness, alignment, napas, dan kontrol sejak dini. Pada akhirnya, Camila berharap semakin banyak orang melihat Pilates bukan berdasarkan stereotipnya, melainkan dari apa yang benar-benar dirasakan tubuh ketika mencobanya. "Saya ingin orang memahami bahwa Pilates itu benar-benar menantang, cerdas, dan bisa menjadi milik siapa saja, apapun bentuk tubuh atau latar belakang kebugarannya. Setelah satu kelas, saya ingin mereka pulang dengan pemahaman baru tentang apa arti core strength dan control yang sebenarnya," demikian dia.