NADIKABAR.COM — Pilates kerap dianggap olahraga kaum menengah ke atas. Tapi, pilates justru penting bagi para atlet dan juga pelaku olahraga.

Pilates semakin mudah ditemukan dalam percakapan seputar olahraga dan gaya hidup sehat. Namun dibalik popularitasnya, masih banyak orang yang belum benar-benar memahami apa itu Pilates.

Ada yang menganggapnya sebagai olahraga peregangan, bagian dari rehabilitasi, atau latihan dengan intensitas yang relatif ringan. Ada pula yang masih bertanya-tanya melihat Reformer, alat dengan carriage, pegas, dan straps yang menjadi bagian penting dari pengalaman Pilates modern.

Stigma itulah yang coba diubah oleh salah satu pelatih Pilates Camila Arreaga yang mengajak masyarakat mengenal pilates dari dasarnya, mulai dari fungsi Reformer, perbedaannya dengan Mat Pilates dan yoga, hingga alasan metode berusia lebih dari satu abad ini tetap relevan hingga sekarang. "Pilates bukan hanya soal stretching atau melatih core. Ini adalah metode latihan yang mengajarkan tubuh untuk bergerak dengan kontrol dan tujuan, bukan sekadar mengandalkan momentum," jelas Camila yang merupakan Head Coach VAURA Pilates Menteng.

"Dalam setiap gerakan, kita belajar menghubungkan napas, posisi tubuh, dan tenaga secara bersamaan. Jadi yang dilatih bukan hanya satu otot, tetapi bagaimana tubuh bekerja sebagai satu kesatuan," sambungnya. Pilates sendiri dikembangkan oleh Joseph Pilates lebih dari satu abad lalu melalui metode yang ia sebut Contrology. Sejak awal, prinsipnya berpusat pada kontrol, presisi, napas, dan hubungan antara pikiran dengan tubuh.

Peralatan berbasis pegas yang berkembang dalam perjalanan metode tersebut kemudian menjadi dasar bagi berbagai apparatus Pilates yang dikenal saat ini, termasuk Reformer. Hingga kini, fondasi itu tetap menjadi bagian penting dari Pilates modern. Meski terlihat cukup kompleks bagi first-timer, fungsi Reformer sebenarnya sederhana: membantu tubuh bergerak dengan lebih terarah. Pegas pada Reformer dapat memberikan bantuan sekaligus resistensi, tergantung pada gerakan, posisi tubuh, dan arah geraknya.

"Dalam satu latihan, pegas bisa membantu menopang tubuh sehingga kita dapat lebih fokus pada kualitas gerakan. Di latihan lain, tegangan yang sama justru menjadi resistensi yang harus kita kontrol," jelas Camila. Karena carriage terus bergerak, tubuh juga harus mengontrol gerakan saat mendorong maupun saat kembali ke posisi awal. Inilah yang membuat Reformer Pilates sering terlihat lebih ringan dari kenyataannya. "Orang melihat gerakannya yang perlahan dan terkontrol lalu mengira mudah. Padahal justru karena gerakannya lambat dan penuh kontrol, latihannya terasa menantang. Kita tidak bisa bersembunyi di balik momentum," ujarCamila.

Bagi Camila, Pilates tidak harus menggantikan olahraga yang sudah disukai seseorang. Justru sebaliknya, Pilates dapat menjadi pelengkap bagi pelari, weightlifter, golfer, pemain olahraga raket, penari, maupun mereka yang rutin berlatih di gym. Pelari, misalnya, terbiasa bergerak dominan ke arah depan dan dapat menemukan tantangan baru ketika Pilates memperkenalkan gerakan rotasi dan lateral. Mereka yang terbiasa mengangkat beban juga sering terkejut ketika diminta bergerak secara presisi tanpa mengandalkan beban berat. Sementara olahraga seperti golf dan racket sports memiliki pola rotasi berulang yang dapat dilengkapi dengan latihan kontrol dan keseimbangan tubuh. "Pilates memang punya peran dalam rehabilitasi, dan tentu ada unsur stretching di dalamnya. Tetapi kalau Pilates hanya dipahami sebatas itu, kita kehilangan gambaran besarnya. Ini adalah metode latihan yang juga membutuhkan strength, coordination, dan control," papar Camila. Bukan Sekadar Tren atau 'Hot Girl Workout'

Popularitas Pilates di media sosial turut melahirkan anggapan bahwa olahraga ini hanya cocok untuk kelompok tertentu. Bagi Camila, persepsi tersebut lebih banyak lahir dari bagaimana Pilates terlihat dari luar dibandingkan apa yang sebenarnya terjadi selama latihan. "Saya justru lebih suka kalau seseorang datang dengan menganggap Pilates akan mudah, lalu keluar dari kelas dengan rasa terkejut, daripada mereka merasa Pilates bukan untuk mereka dan akhirnya tidak pernah mencoba," ujarnya. Pilates dapat diterapkan pada berbagai usia dan latar belakang kebugaran. Bagi peserta yang lebih muda, fokusnya mungkin pada performa dan kekuatan. Bagi kelompok usia yang lebih matang, manfaat latihan dapat bergeser pada kemampuan menjaga keseimbangan, kontrol sendi, dan kemandirian dalam bergerak. Dengan pendampingan yang tepat, remaja pun dapat mulai mengenal body awareness, alignment, napas, dan kontrol sejak dini. Pada akhirnya, Camila berharap semakin banyak orang melihat Pilates bukan berdasarkan stereotipnya, melainkan dari apa yang benar-benar dirasakan tubuh ketika mencobanya. "Saya ingin orang memahami bahwa Pilates itu benar-benar menantang, cerdas, dan bisa menjadi milik siapa saja, apapun bentuk tubuh atau latar belakang kebugarannya. Setelah satu kelas, saya ingin mereka pulang dengan pemahaman baru tentang apa arti core strength dan control yang sebenarnya," demikian dia.