NADIKABAR.COM — Feby Indirani, penulis buku berjudul Memburu Muhammad dan Bukan Perawan Maria yang dipersoalkan sejumlah pihak, buka suara terkait kedua karyanya tersebut. Dia mengatakan karya fiksi yang ia buat lahir dengan niat baik.
Feby awalnya menjelaskan background dirinya yang tumbuh sebagai seorang muslim. Dia mengatakan karya-karyanya berakar kuat pada tradisi, khazanah, hingga keragaman tafsir dalam dunia Islam.
"Saya lahir dan tumbuh sebagai seorang muslim. Perjalanan kepenulisan saya berakar kuat pada tradisi, kekayaan khazanah, serta keragaman tafsir dalam dunia Islam. Sejak kecil saya terbiasa membaca dan mendengar kisah-kisah hikmah yang memotret dunia, manusia, dan kebenaran secara arif, reflektif, penuh humor, serta tidak pernah hitam-putih," kata Feby saat dihubungi, Senin (28/9/2026).
Dia pun mengatakan kedua karyanya, yang belakangan dipersoalkan hingga tengah didalami pihak kepolisian tersebut, bersumber dari pengalaman dan pengamatannya sehari-hari sebagai umat Muslim. Buku-buku itu, kata dia, ikhtiar untuk mencerminkan kompleksitas dalam beragama.
"Semua cerita di dalam Bukan Perawan Maria (BPM) dan Memburu Muhammad (MM) bersumber dari pengalaman serta pengamatan atas kehidupan sehari-hari umat muslim di Indonesia. Kedua buku tersebut merupakan ikhtiar untuk mencerminkan warna, dinamika, serta kompleksitas laku beragama kita sehari-hari," ucap dia.
Karena itu, ia menekankan karya sastra tidak bisa hanya dinilai dari membaca judul berita atau artikel opoini. "Sebagai karya sastra, fiksi bekerja melalui perangkat-perangkat sastrawi: ia bertumpu pada sudut pandang tokoh fiktif, simbol, dan kiasan. Teks sastra tidak dapat dinilai dengan cara membaca judul berita atau artikel opini," imbuh dia.
Dia lantas membahas karyanya, Memburu Muhammad. Feby menjelaskan buku tersebut menggunakan sudut pandang tokoh fiktif yakni Abu Jahal yang merupakan musuh utama Nabi Muhammad yang kemudian diam-diam mengakui kehebatan Nabi Muhammad.