"Sebagai contoh, dalam cerpen Memburu Muhammad-sebagaimana cerita-cerita lainnya di kedua buku tersebut-saya menggunakan sudut pandang tokoh fiktif, yakni Abu Jahal, musuh utama Nabi Muhammad SAW. Sebagai musuh, ia tentu enggan mengakui kenabian Rasulullah, tetapi diam-diam tidak kuasa menyangkal keagungan pribadi beliau. Salah satu ukuran tertinggi kemuliaan seseorang adalah ketika musuhnya sekalipun mengakui kehebatannya. Dalam cerita tersebut, Abu Jahal heran melihat begitu banyak orang menyandang nama Muhammad, namun tidak meneladani akhlaknya," jelas dia.
"Apa yang sesungguhnya 'diburu' dalam konteks ini adalah sifat-sifat mulia sang Nabi-selaras dengan makna kata 'memburu' dalam KBBI, yakni berusaha keras untuk mendapatkan atau meraih sesuatu," lanjutnya.
Dia menyampaikan karyanya tersebut ditempatkan dalam koridor sastra dakwah bahkan telah dibahas di berbagai forum perguruan tinggi. Jejak kedua bukunya, kata dia, sudah dibaca secara wajar oleh ribuan umat muslim.
"Secara akademis, kajian terhadap buku ini bahkan menempatkannya dalam koridor sastra dakwah (seperti yang dicatat dalam riset jurnal ilmiah STID Al-Hadid). Karya-karya ini juga telah dibahas di berbagai forum perguruan tinggi, termasuk di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jejak perjalanan kedua buku ini sudah panjang dan telah dibaca secara wajar oleh ribuan umat muslim," tutur dia.
Ia mengatakan karya Bukan Perawan Maria (BPM) pertama kali terbit pada 2017, di mana Menteri Agama RI saat itu, Lukman Hakim Saifuddin, hadir memberikan pidato kebudayaan dalam peluncurannya. Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan di Italia pada 2019, lalu diterbitkan ulang di Indonesia oleh Bentang Pustaka yang merupakan bagian dari Mizan Group, pionir penerbitan buku-buku Islam sejak 1980-an.
Sementara itu, buku berjudul Memburu Muhammad terbit pada 2020 dengan kata pengantar dari Gus Nadirsyah Hosen. Saat peluncuran daring di masa pandemi, buku ini dibahas tuntas dan mendalam oleh Gus Ulil Abshar Abdalla yang merupakan Ketua PBNU.
"Saya menulis dari dalam diri masyarakat Muslim sendiri. Karya-karya ini lahir dengan niat baik, sebuah ikhtiar kreatif mengajak kita merenung, berdialog, dan memeriksa diri sendiri. Menghakimi karya sastra hanya dari judul atau potongan teks di media sosial yang dibingkai sedemikian rupa secara tidak berimbang, justru menjauhkan misi sastra sebagai bagian dari pendidikan dan kemaslahatan umat," pungkasnya.