Pada saat yang sama, pola tekanan tinggi di Pasifik Selatan dapat mengubah jalur badai. Akibatnya, jalur sistem badai di Belahan Bumi Selatan dapat bergeser lebih dekat ke wilayah subtropis dan memungkinkan sistem cuaca kuat mencapai bagian Chile yang biasanya sangat kering.

Badai salju pada Agustus juga bukan satu-satunya kejadian ekstrem tahun ini. Peristiwa besar pada Juli sebelumnya sudah menyebabkan dampak signifikan di wilayah Norte Chico, Chile.

Bagi Atacama, masalahnya bukan sekadar pemandangan gurun berubah menjadi putih. Hujan dalam jumlah ekstrem dapat menyebabkan banjir bandang dan aliran lumpur di wilayah yang infrastrukturnya tidak terbiasa menghadapi curah hujan besar.

Otoritas Chile melaporkan ribuan orang terdampak dan ratusan rumah mengalami kerusakan berat akibat cuaca ekstrem tersebut. Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana sebuah wilayah yang terkenal karena kekeringannya tetap bisa mengalami perubahan cuaca ekstrem ketika pola atmosfer global berubah.

Gurun Atacama mungkin dikenal sebagai salah satu tempat paling kering di Bumi, tetapi badai Agustus 2026 menunjukkan bahwa bahkan gurun superkering pun tidak sepenuhnya kebal terhadap kejutan atmosfer.

Dan kali ini, satelit NASA berhasil merekam perubahan tersebut dari luar angkasa, dari bentangan gurun cokelat dan tandus menjadi hamparan putih yang nyaris mencapai Samudra Pasifik.

Artikel ini telah tayang di NadiKabar. Baca selengkapnya di sini.