Namun, ketika para pakar kimia kemudian mencoba membuat molekul semacam itu dalam reaksi biasa, mereka umumnya memperoleh jumlah yang hampir sama dari kedua bentuk tersebut.

Bagaimana Kagan dan Soai Membantu Memecahkan Misteri Ini?

Tantangannya adalah menemukan cara kimiawi yang dapat menghasilkan salah satu bayangan cermin sebagai produk dominan dibanding bayangan cermin lainnya. Kagan mengambil langkah penting pada 1986. Para pakar kimia umumnya berasumsi bahwa jika suatu katalis mengandung proporsi tertentu dari satu "tangan" molekuler, produknya akan menunjukkan proporsi yang kurang lebih sama.

Dia menunjukkan bahwa hubungan ini dapat bersifat nonlinear. Ketidakseimbangan kecil pada katalis dapat menciptakan ketidakseimbangan yang jauh lebih besar pada produk. Sederhananya, kimia dapat memperkuat preferensi yang awalnya sedikit. Soai kemudian melangkah lebih jauh. Pada 1990-an, dia mengembangkan suatu reaksi di mana produk dapat membantu membuat lebih banyak salinan dirinya sendiri, sebuah proses yang dikenal sebagai autokatalisis. Dalam satu eksperimen yang dilaporkan pada 1995, ketidakseimbangan awal yang hanya 2 persen meningkat menjadi 87 persen. Pada 2003, Soai menunjukkan reaksi yang dapat dimulai tanpa preferensi kiral bawaan dan tetap akan berakhir dengan produk yang didominasi oleh satu bayangan cermin.

Oleh karena itu, perbedaan kecil yang muncul secara kebetulan dapat memperkuat dirinya sendiri berulang kali hingga satu "tangan" molekuler mengambil alih hampir sepenuhnya.

Sederhananya, Kagan menunjukkan bagaimana preferensi kiral yang kecil dapat diperbesar, sementara Soai menunjukkan cara sebuah dominansi kecil dapat memperkuat dirinya sendiri melalui autokatalisis.

Komite Nobel menggambarkan reaksi Soai sebagai salah satu eksperimen kimia paling spektakuler yang pernah dilakukan.