NADIKABAR.COM — Pentagon atau Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) sedang bersiap mengerahkan kapal induk ketiga AS, beserta kelompok tempurnya, dan kapal-kapal tambahan dari Korps Marinir ke kawasan Timur Tengah.
Pengerahan tersebut akan menambah sekitar 9.000 hingga 10.000 personel militer AS yang dikerahkan ke kawasan tersebut,
Laporan pengerahan kapal induk AS itu, seperti dilansir Anadolu Agency, Jumat (2/10/2026), disampaikan oleh media terkemuka AS, Wall Street Journal (WSJ) dalam laporan terbaru, yang mengutip keterangan para pejabat AS, pada Kamis (1/10) waktu setempat.
Menurut WSJ, pengerahan itu dilakukan saat Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk kembali menyerang Iran, usai pemilu sela pada awal November mendatang.
Kapal-kapal, jet tempur, dan para personel tambahan Marinir dan Angkatan Laut AS diperkirakan akan tiba di Timur Tengah pada akhir November.
USS Theodore Roosevelt, kapal induk ketiga AS yang akan dikerahkan ke Timur Tengah, telah bertolak dari San Diego pada Minggu (27/9) waktu setempat untuk pengerahan yang telah dijadwalkan.
Gugus Tugas Amfibi USS Makin Island, yang membawa para personel Marinir dari Unit Ekspedisi Marinir ke-13, telah berangkat pada Senin (29/9) waktu setempat.
Saat ini, dua kapal induk AS, yakni USS George HW Bush dan USS George Washington, sudah berada di kawasan Timur Tengah.
Jika USS George Washington tetap berada di sana ketika USS Theodore Roosevelt tiba, maka AS akan memiliki tiga kapal induk sekaligus di Timur Tengah untuk pertama kalinya sejak April -- masa sebelum gencatan senjata rapuh antara AS-Iran mengakhiri pertempuran sejak 28 Februari.
Pasukan tambahan ini akan bergabung dengan lebih dari 50.000 personel militer AS yang sudah berada di kawasan tersebut.
Namun, ada kemungkinan USS George Washington akan kembali ke pangkalan induknya di Jepang, sehingga menyisakan dua kapal induk AS di kawasan itu.
Pengerahan kapal induk beserta pasukannya ini dilakukan menyusul penolakan Trump terhadap usulan terbaru Iran mengenai gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari. Upaya negosiasi terbaru, di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York, juga menemui jalan buntu.
Dalam wawancara dengan majalah TIME pada Kamis (1/10), Trump mengatakan bahwa dirinya dapat kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilu sela berlangsung, jika tidak ada kesepakatan yang dicapai.