Rangkaian ibadah ini diawali dengan salat Subuh berjamaah di masjid, kemudian dilanjutkan dengan berzikir atau beristigfar di tempat salat hingga matahari terbit. Setelah itu, rangkaian tersebut ditutup dengan salat dua rakaat. Waktu pelaksanaan salat Syuruq tergolong singkat.
Namun, salat Syuruq tidak boleh dikerjakan terlalu awal atau tepat saat matahari terbit. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi SAW mengenai waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan salat:
"Janganlah kalian memilih untuk mengerjakan salat pada saat terbit matahari dan jangan pula ketika matahari tenggelam, karena matahari terbit di tim redaksi dua tanduk setan." (HR. Bukhari)
Masih mengutip sumber yang sama, salat Dhuha memiliki rentang waktu yang jauh lebih panjang. Salat ini dapat dikerjakan sekitar 15 menit setelah matahari terbit hingga menjelang masuk waktu Zuhur, yakni ketika matahari tepat berada di tengah langit atau saat zawal.
Dalam rentang waktu tersebut, salat Dhuha memiliki beberapa pembagian waktu. Berdasarkan ulasan Ahmad Farid dalam buku The Power of Tahajud, waktu pelaksanaan salat Dhuha terbagi menjadi tiga. Waktu pertama disebut juga sebagai waktu pelaksanaan salat Syuruq atau awal waktu Dhuha.
Waktu kedua merupakan waktu yang paling utama untuk melaksanakan salat Dhuha, yaitu ketika matahari mulai terasa menyengat. Waktu ini dikenal dengan istilah awwabin.
Nabi SAW bersabda, "Salatnya orang-orang awwabin (kembali kepada Allah) adalah ketika anak-anak unta sudah bangun dari pembaringannya karena tersengat panasnya matahari." (HR. Muslim)
Jika diperkirakan, waktu ini biasanya sekitar pukul 08.30-9.30 (tergantung lokasi). Adapun waktu salat Dhuha terakhir yang dianjurkan, yaitu 10-15 menit sebelum Zuhur.