Di Sulawesi Selatan, Tengah dan Tenggara, eksploitasi mineral kritis ini bahkan telah berlangsung selama beberapa dekade. Bahkan di Mamuju Sulbar, ditemukan potensi LTJ yang menggemparkan dunia karena elemen LTJ nya bukan merupakan mineral ikutan (by product) melainkan sebagai mineral primer. Saya menyoroti peran perguruan tinggi, khususnya Universitas Hasanuddin yang masih sebatas pensuplai tenaga kerja dan belum banyak terlibat di bidang penelitian dan pengembangan mineral kritis ini. Di Unhas misalnya, kami menghasilkan ratusan alumni teknik Geologi, Pertambangan, Lingkungan, Geodesi dan Metalurgi yang bekerja di industri pertambangan. Mereka hanya sebatas pekerja dan tidak terlibat langsung di bidang penelitian, pengembangan dan keberlanjutan. Padahal sejatinya, perguruan tinggi harus proaktif melakukan penelitian agar menemukan kebaruan di bidang teknologi pertambangan, penanganan lingkungan, daur ulang limbah, kesehatan dan keselamatan kerja, konflik sosial, bahkan penemuan mineral baru dan teknik ekstraksi yang lebih efisien. Karena posisinya yang strategis di Pulau Sulawesi dengan potensi LTJ yang masih membutuhkan penelitian lanjutan yang lebih mendalam, maka berdasarkan hasil diskusi dengan Rektor dan Dr. Ansariadi (Dekan) FKM, diputuskan untuk mendirikan Critical Mineral Institute (CMI) yang akhirnya resmi di launching oleh Rektor Unhas di upacara diesnatalis yang ke-70 tanggal 10 September 2026.

Saat presentasi di Brisbane, saya memaparkan hasil penelitian dari BIM mengenai potensi mineral kritis di Indonesia yang masih sulit di ekstraksi. Indonesia memiliki LTJ yang melekat di timah, bauksit dan nikel tetapi merupakan mineral ikutan yang volumenya sangat kecil yaitu dalam hitungan PPM (parts per million). Di nikel laterite misalnya, LTJ yang melekat meliputi skandium, praseodimium, neodimium dan disprosium. Sementara di lapisan nikel saprolite dapat ditemukan unsur lainnya seperti serium, gadolinium, erbium dan europium. Sementara di timah, mineral ikutannya adalah monasit, xenotim dan zirkon. Elemen LTJ di bauksit terkandung di red mud, yaitu residu yang dihasilkan dari proses pengolahan bauksit menjadi alumina. Elemen tanah jarangnya adalah scandium. Meski keseluruhan LTJ ini sangat diutuhkan di pasar global, terutama untuk industri elektronik, energi terbarukan, kendaraan listrik dan peralatan militer, Indonesia mengalami beberapa kendala dalam mengekstraksi mineral strategis ini. Kendala utamanya adalah keterbatasan teknologi dan alat uji, risiko lingkungan dan limbah radioaktif, biaya investasi yang sangat mahal, keterbatasan sumber daya manusia dan regulasi dan tata kelola.

Menyadari kendala yang menghadang, peran strategis perguruan tinggi terutama yang berlokasi di episentrum LTJ seperti Unhas harus dimaksimalkan. Langkah proaktif mendirikan lembaga yang secara konsisten fokus melakukan penelitian mengenai potensi, teknik ekstraksi, penanganan limbah, dan efisiensi industri harus diapresiasi. Di sesi inilah yang kemudian mempertemukan kami dengan bagian kerjasama internasional Universitas Queensland (UQ) tentang eksistensi Sustainable Mineral Institute (SMI) di UQ. Kami kemudian dipertemukan dengan Direkturnya dan berdiskusi selama lebih dari dua jam karena mereka sangat antusias membahas tema mineral kritis yang merupakan mineral masa depan peradaban manusia. Saya ditemani Dr. Ansariadi (Dekan FKM) dalam diskusi yang sangat bergairah dengan Professor Ricky Valenta dan Ms Julian dari SMI. Saya memaparkan posisi strategis Unhas di Pulau Sulawesi dan urgensi keterlibatan pendidikan tinggi dalam riset berkelanjutan mengenai mineral kritis yang belum sepenuhnya dipahami dengan baik dan komprehensif. Kami mengusulkan agar Unhas dan UQ membuat kerjasama dalam bentuk joint-lab yang dibangun di Unhas agar memudahkan berbagai sampel mineral kritis diuji dan dipelajari. Kami juga menyampaikan bahwa Unhas telah menandatangani MOU dengan BIM dan Perminas sebagai lembaga yang memiliki otoritas dari pemerintah untuk melakukan penelitian, eksplorasi dan eksploitasi mineral kritis khususnya LTJ.