"Kita tentu saya berusaha menjadi pembaca yang baik, tetapi juga menjadi pendengar yang baik, sekaligus menjadi penulis yang baik. Mari kita jadikan literasi bukan hanya kemampuan untuk membaca kata, tetapi kemampuan untuk membaca kehidupan, dan mengubahnya menjadi lebih baik," tekan Mu'ti.
Hadir di kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menilai keberhasilan literasi bukan seberapa meriah peringatan Hari Aksara Internasional diperingati. Tetapi, kehidupan perlu berubah karena literasi.
"Mari kita jadikan September 2026 sebagai momentum dari membaca menjadi memahami, dari memahami menjadi peduli, dari peduli menjadi bergerak, dan dari gerakan itulah lahir kesejahteraan," ungkap tatang.
Peringatan 60 tahun Hari Aksara Internasional menjadi fondasi agar semakin banyak manusia membaca dunia, memahami zamannya, dan menulis masa depannya sendiri. Dengan tema 3S yang diangkat Kemendikdasmen, pemerintah tengah berupaya menghadirkan gerakan untuk Indonesia yang lebih berdaya dan sejahtera.
"Literasi untuk Semesta, Sesama, dan Sejahtera (3S) bukan sekedar tema. Ini adalah gerakan kita, tanggung jawab kita, dan ikhtiar kita untuk Indonesia yang lebih berdaya dan sejahtera," sambungnya.