"Perubahan waktu pertunjukan bukan sekadar menghadirkan suasana berbeda. Panggung malam membuka ruang eksplorasi artistik yang lebih luas, dengan permainan cahaya dan visual yang memperkuat kemegahan gerak ribuan penari Gandrung," tutur Ipunk.

Gandrung Sewu sendiri berakar pada Tari Gandrung, kesenian khas Banyuwangi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Osing.

Kata 'Gandrung' bermakna terpikat atau mencintai. Dalam perjalanannya, tari ini menjadi salah satu penanda identitas budaya Banyuwangi yang terus diwariskan lintas generasi.

"Melalui Gandrung Sewu, pelestarian budaya juga berjalan beriringan dengan regenerasi penari muda, pembelajaran sejarah lokal, serta pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat," kata Ipuk.

Dari Jejer Gandrung hingga Kembang Dermo, perjalanan Gandrung Sewu menunjukkan tradisi bukan sesuatu yang berhenti di masa lalu.

Ia terus hidup, tumbuh, dan menemukan cara baru untuk menyapa zaman tetap berakar pada warisan leluhur, sekaligus menghadirkan keajaiban bagi generasi masa kini.