Erick juga menempatkan tragedi Kanjuruhan sebagai salah satu titik balik penting dalam pembenahan sepak bola Indonesia.

Keberhasilan melaju ke final tepat empat tahun setelah tragedi tersebut memberikan makna tersendiri bagi perjalanan tim nasional. Momen itu menjadi kesempatan untuk mengenang para korban sekaligus melihat perkembangan sepak bola Indonesia di tengah upaya pembenahan yang masih terus berjalan.

"Empat tahun lalu, kita kehilangan 135 saudara kita di Kanjuruhan. Sebelum pertandingan kita mengheningkan cipta untuk mengenang mereka, lalu para pemain berjuang sampai menit ke-97 untuk membawa Indonesia ke final," kata Erick Thohir.

Bagi Erick, pertandingan itu bukan sekadar tentang menang dan kalah, melainkan tentang bagaimana sepak bola Indonesia belajar dari masa lalu dan terus bergerak maju.

Ingatan tentang tragedi Kanjuruhan, kata dia, harus terus dirawat sebagai pengingat sekaligus untuk berjuang memastikan sepak bola Indonesia yang dibangun saat ini jauh lebih profesional, membanggakan dan menjamin keamanan dan kenyamanan para suporter yang mendukung langsung timnas ke stadion.