"Pada saat saya perjalanan menuju musala itu, saya kan berjalan kaki sama istri saya dan anak saya yang umurnya 3 tahun naik sepeda pushbike. Anak saya bawa sepeda. Nah, kita di jalan disorakin, diteriak-teriakin, ada beberapa warga yang mukul, ada yang jambak," ungkapnya.
Pada saat mediasi, Agung mengatakan sempat berpisah dengan istri dan anaknya. Pada momen itu, kata Agung, ia beserta istrinya dianiaya oleh sejumlah warga.
"Kebetulan dari pas mediasi orang mukul itu, saya terpisah sama istri saya. Saya sudah maju ke depan sekitar 3 meter, istri saya masih di belakang. Nah, saya dipukulin, kepala anak, kepala belakang, istri saya dipiting lehernya, rambutnya dijambak sama warga," jelasnya.
"Terus istri saya teriak-teriak, 'Pah tolong, Pah! Aku dipiting' Nah, saya tuh udah, udah nggak bisa ngelihat istri saya, tapi masih bisa dengar suaranya, kan kondisi sudah rame," ungkapnya.
Imbas penganiayaan itu, Agung dan istri mengalami luka di bagian kepala. "Kalau saya luka di bagian kepala belakang, istri di leher sama rambut, ditarik, dijambak," tuturnya.
Agung mengatakan pada Senin (12/10), jalan di rumahnya masih ditutup warga RT 7 menggunakan hebel. Akhirnya Agung memarkirkan mobil melalui persetujuan RT setempat namun berujung mobil dirusak.
"Lebih parahnya lagi, mobil kami dirusak. Empat ban kami dirusak, tiga bannya disobek. Nah, dari situ saya mulai, 'Wah, udah nggak wajar ini', akhirnya saya membuat laporan ke polisi," ungkapnya.
"Membuat tiga laporan polisi, yang pertama perusakan, yang kedua penganiayaan terhadap istri, yang ketiga penganiayaan terhadap saya," tambahnya.
Diminta konfirmasi terpisah, Kasat Reskrim Polres Metro Depok AKBP Made Gede Oka Utama mengatakan akan mengecek laporan tersebut. Kasus masih didalami pihak kepolisian.
"Ya nanti kami cek dan dalami. Dari kapolsek semalem sudah ada laporan mediasi," ujar AKBP Gede Oka kepada wartawan.