NADIKABAR.COM — Perkara petasan saat acara Maulid Nabi di Pondok Pinang, Jaksel berbuntut panjang. Sejumlah korban terkait kasus ini membuat laporan polisi.

Sebagaimana diketahui, rekaman video beredar memperlihatkan acara Maulid Nabi di Pondok Pinang, Jaksel, diprotes warga hingga berujung ribut. Warga merasa terganggu lantaran acara tersebut dibarengi dengan menyalakan petasan hingga Sabtu (3/10) dini hari.

Kericuhan diduga bermula dari penggunaan petasan yang terus dinyalakan hingga sekitar pukul 01.00 WIB. Aksi menyalakan petasan itu membuat warga merasa terganggu.

Dalam rekaman video yang viral di media sosial, terlihat seorang ibu memprotes penyalaan kembang api di acara maulid tersebut. Wanita itu protes karena petasan dinyalakan hingga dini hari dan mengganggu waktu istirahat.

Disebutkan pula sejumlah anak terbangun dan menangis imbas suara petasan itu. Situasi kian panas ketika seorang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus menyampaikan keluhannya kepada penyelenggara.

Ibu tersebut juga menyebutkan bahwa penyalaan petasan tersebut membuat anaknya tremor. Beberapa warga ada yang menenangkan ibu tersebut, namun sebagian peserta acara justru balik marah-marah dan menyebutnya kafir.

Ketegangan sempat terjadi saat ibu tersebut mencoba meminta panitia tersebut datang. Beberapa warga terlihat mengintimidasi korban dan memegang koran.

Perempuan korban penganiayaan terkait kasus tersebut berinisial LK melaporkan ke polisi. Laporan tersebut teregister dengan nomor LP/B/4008/X/2026/SPKT/POLRESMETROJAKSEL/POLDAMETROJAYA.

"Jadi kemarin tanggal 5 Oktober, datang seorang perempuan inisial LK melaporkan perbuatan yang dialaminya. Dan perkara itu yang dialaminya berupa pengeroyokan dan/atau penganiayaan," kata Kasi Humas Polres Jakarta Selatan AKP Joko Adi kepada wartawan, Rabu (7/10).

Joko mengatakan kasus itu bermula beberapa waktu lalu ada perselisihan antara penyelenggara kegiatan agama dan masyarakat yang merasa terganggu karena adanya suara berisik kembang api. Kemudian perkara ini sempat dimediasi tapi masih buntu.

"Mediasi sudah dilakukan dua kali, namun dari mediasi itu belum ada titik temu, yang kemudian salah satu warga ini memutuskan untuk melaporkan apa yang dialami ke Polres Jakarta Selatan," jelasnya.

Joko mengatakan laporan sudah diterima dan tengah ditindaklanjuti. Dalam kasus ini, LK disebut mengalami penganiayaan dengan cara dipukul hingga dijambak.

"Jadi yang dialami Saudari LK ini, yang dijelaskan pada kami, yang bersangkutan mengalami didorong, dijambak, dan juga dipukul," ucapnya.

Selanjutnya, Joko mengatakan LK telah menjalani visum. Nantinya hasil visum itu digunakan sebagai alat bukti.

"Dari pengakuannya, terkait itu pun kami sudah melakukan visum terhadap korban, dan tentunya hasilnya nanti dari hasil visumnya," imbuh dia.

Joko menjelaskan pelaporan yang dilakukan LK khusus mengenai penganiayaan. LK disebut tidak mempersoalkan acara keagamaan.

"Artinya, dari dampak kegiatan kembang api itu, kan ada nampak di video ada dorong-dorongan kegiatan itu. Kemungkinan itu yang dipermasalahkan. Untuk kegiatan keagamaan, ibu ini tidak mempermasalahkannya," ucap dia.

Korban lain juga melapor. Korban melaporkan terkait dugaan kasus pengeroyokan.

Laporan sudah teregister dengan nomor LP/B/7547/X/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA tertanggal 8 Oktober 2026. Adapun terlapor dalam hal ini masih dalam penyelidikan.

"Laporan sudah diterima dan ini sudah saya ceritakan dengan detail pelaporannya. Dan akan dilanjutkan oleh visum. Jadi saya sekarang hari ini langsung ke RS Polri untuk melakukan visum," kata pelapor, Amanda Andono, kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Kamis (8/10/2026).

Amanda mengatakan bisingnya suara petasan dalam acara maulid tersebut membuat anaknya yang sudah tidur terbangun. Dia menyebut anaknya sampai kejang, panik, hingga berteriak saat mendengar suara petasan.

"Itu aja nggak cuma sekali, dua kali, tapi itu sampai 10 menit lebih tuh masih der...der...der!. Sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk saya harus menghentikan dan saya harus ke lokasi, ke TKP gitu. Ya udah saya ke sana," jelasnya.

Saat tiba di lokasi, Amanda justru ditanya terkait agamanya. Dia meminta petasan itu dihentikan lantaran bising. Amanda juga mengaku mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari sejumlah orang.

"Saya ditanya macam-macam, saya ditahan, diludahin mukanya, disembur mukanya, disuruh pulang. Sampai pada akhirnya, mungkin kalau mungkin yang sudah pernah lihat videonya, secara detail di situ ada. Dan sehingga pas waktu sudah ditahan, malah malah saya dibilang provokator, padahal sebetulnya provokator mereka gitu," kata dia.

"Jadi setelah itu saya didorong, ditarik, sampai didorong sampai saya hampir masuk...bukan, saya jatuh ke got. Lalu saya ditarik sampai pakaian dalam saya putus gitu. Ya saya udah mau...gestur dari mereka tuh udah mau mukul, udah mau nampar apa gimana," imbuhnya.

Amanda mengatakan pihaknya sudah menyiapkan bukti-bukti, termasuk baju yang dia kenakan saat kejadian. Dia juga diarahkan untuk melakukan visum ke RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.