"Kemudian juga menimbulkan risiko meletusnya gunung berapi di Kabupaten Klaten. Dan sekaligus Sesar Opak juga masih aktif di Kabupaten Klaten sehingga potensi gempa," ungkapnya.
Oleh karena itu, sambung Mas Hamenang, pemerintah daerah memandang penting adanya koordinasi lintas sektor secara berkala. Melalui kegiatan tersebut, para pemangku kepentingan di tingkat kabupaten hingga kecamatan mendapatkan informasi dan pemahaman mengenai potensi ancaman bencana sekaligus langkah-langkah yang perlu dilakukan.
"Maka kami berpikir sangat strategis untuk kemudian bisa kumpul bareng-bareng. Kita menyampaikan informasi. Tadi banyak narasumber yang luar biasa sehingga memberikan gambaran pemahaman terhadap rekan-rekan yang ada di wilayah. Setelah ini harapannya nanti bisa timbul kesiapsiagaan lebih meningkat lagi," tutur Mas Hamenang.
Lebih lanjut, Mas Hamenang menekankan kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan kekompakan seluruh unsur, termasuk masyarakat, relawan, dan stakeholder terkait.
Pemerintah tidak dapat memprediksi secara pasti kapan bencana akan terjadi. Peningkatan kesiapsiagaan dan kemampuan mitigasi diyakini dapat menekan risiko serta meminimalisir jumlah korban apabila bencana benar-benar terjadi.
Sebagai tindak lanjut, imbuh Hamenang, Pemerintah Kabupaten Klaten juga akan menggelar simulasi bencana pada 21, 22, dan 23 September 2026. Simulasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan seluruh unsur dalam merespons situasi darurat sekaligus menguji kesiapan sistem penanggulangan bencana di lapangan.