Selain itu, ungkap Suharman, kajian dilakukan di SMAN Unggulan MH Thamrin Jakarta dan SMA Taruna Nusantara sebagai representasi sekolah negeri dengan karakteristik transformasi yang berbeda.
Keragaman lokasi tersebut menjadi dasar untuk melihat bagaimana tata kelola laboratorium STEM dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks masing-masing sekolah.
"Melalui keberagaman konteks ini, kami menyusun rekomendasi tata kelola yang inklusif agar laboratorium STEM di Sekolah Garuda dapat benar-benar berfungsi sebagai ekosistem inovasi yang memperkuat kompetensi guru dan mencetak generasi unggul berdaya saing global," ujar Suharman.
Menurut dia, kerangka tata kelola tersebut menempatkan guru sebagai salah satu unsur penting dalam keberlanjutan ekosistem laboratorium STEM.