"Hasil survei riset kami di lima provinsi, Jawa Barat, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku, menunjukkan adanya kesenjangan keterampilan (skills gap). Meskipun persepsi dan antusiasme guru terhadap penerapan STEM sangat tinggi, mayoritas guru merasa keterampilan teknis mereka belum memadai untuk mengimplementasikannya di kelas," ucap Suharman.

Suharman menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya tata kelola laboratorium yang tidak berhenti pada penyediaan sarana dan prasarana.

Maka dari itu, tata kelola laboratorium STEM menjadi penting, sebab pembangunan talenta peserta didik dalam program Sekolah Unggul Garuda tidak cukup hanya dengan penguasaan teori sains. Peserta didik perlu memahami bagaimana pengetahuan dibangun, merumuskan pertanyaan penelitian, serta merancang pemecahan masalah berdasarkan bukti.

Melalui riset tersebut, BRIN berupaya menghasilkan rekomendasi tata kelola laboratorium STEM yang dapat diterapkan sesuai karakteristik sekolah. Dengan demikian, keberadaan laboratorium tidak berhenti sebagai fasilitas pendukung pembelajaran, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem yang memperkuat kapasitas guru, pengalaman belajar peserta didik, penelitian, inovasi, dan kolaborasi di lingkungan sekolah.