NADIKABAR.COM — Tak mudah bagi Eli Suarni, warga Nagari Malai III Koto yang berada di kawasan perbukitan di Kecamatan Sungai Garinggiang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, untuk menjalani hidup dengan mengandalkan penghasilan dari pekerjaan informal.

Suaminya, seorang buruh tani, dulu menjadi penopang utama ekonomi keluarga. Namun, penyakit asam urat yang kerap kambuh membuatnya tak lagi mampu melakukan pekerjaan berat. Sementara itu, tiga dari tujuh anak mereka masih bersekolah.

"Saya sudah lama ingin mendapatkan PKH (Program Keluarga Harapan) untuk membantu biaya sekolah anak-anak dan menambah perekonomian keluarga," kata Eli.

Ia mulai mengupayakan bantuan tersebut sejak 2018. Ia mendatangi pendamping PKH hingga ke kantor wali nagari, tetapi harus menjalani penantian panjang.

"Uni sabar ajalah menunggu, suatu saat pasti akan dapat," demikian petuah yang kerap ia dengar selama menunggu.

Penantian itu berakhir pada Oktober 2026 ketika Eli akhirnya menerima bantuan PKH.

"Sekarang ternyata sangat mudah, kita bisa mendaftar lewat HP," tuturnya.

Kemudahan itu berkaitan dengan digitalisasi Perlindungan Sosial atau Perlinsos Digital, program Kementerian Sosial (Kemensos) yang dikembangkan melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Pendaftaran dapat dilakukan melalui telepon genggam dengan menyiapkan KTP, mengaktifkan Identitas Kependudukan Digital (IKD), mencantumkan ID pelanggan PLN, dan menjalani verifikasi wajah.

"Alhamdulillah, sangat gampang," tambah Eli.