Seketika itu, timbul ledakan dahsyat yang mengempaskan para pekerja dan mengeluarkan asap pekat dari lima sumur miring.

Setelah ledakan terjadi, pihak pengelola Jepang menutup ventilasi ke bawah tanah demi mencegah kebakaran serta melindungi peralatan dan cadangan batu bara di dalam tambang.

Tim penyelamat Jepang yang turun ke lokasi memprioritaskan evakuasi pejabat atau petugas Jepang dan mengabaikan para buruh China yang merintih kesakitan di sepanjang lorong.

Akibat penutupan ventilasi, lorong tambang dipenuhi gas beracun karbon monoksida (CO). Sebagian besar pekerja tewas bukan karena dampak ledakan langsung, melainkan akibat keracunan karbon monoksida saat berusaha melarikan diri ke luar sumur.

Jumlah korban jiwa akibat kecelakaan tambang ini mencapai 1.549 orang, dengan 1.518 orang di antaranya adalah warga China.