Kelas bahasa Mandarin gratis saat ini telah berjalan di tiga kecamatan. Salah satunya berlangsung di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, dengan peserta yang sebagian berasal dari SMK Negeri 1 Sawan.
Arland juga berencana mengembangkan kelas serupa bagi siswa SMK Negeri 1 Kubutambahan, terutama karena banyak siswa mengambil jurusan yang berkaitan dengan pariwisata.
"Kelas gratis itu 10 sampai 15 orang. Kalau lebih dari itu kami susah kontrol. Jadi memang target gratis kami di angka 10 sampai 15 orang per kecamatan," ujarnya.
Selain kelas gratis, Arland juga membuka pembelajaran privat berbayar bagi peserta yang menginginkan pendampingan lebih intensif. Biaya tersebut, kata dia, digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional seperti waktu, transportasi, dan akomodasi. Untuk saat ini, seluruh kelas tersebut masih diajar langsung oleh Arland.
Arland mengaku tidak menganggap proses mengajar sebagai beban. Justru, ia merasa mendapat pengalaman baru ketika berinteraksi dengan siswa yang lebih muda.
"Kalau tantangan utama sih tidak ada karena saya enjoy melakukan ini. Ketemu teman yang lebih muda saya juga dapat pembelajaran," katanya.
Menurutnya, tantangan lebih banyak berkaitan dengan waktu dan perjalanan menuju lokasi pembelajaran. Salah satunya perjalanan menuju Desa Bengkala yang membutuhkan waktu sekitar 40 menit, ditambah durasi mengajar sekitar satu setengah jam.
"Bagaimana bisa menghemat waktu. Ketika online pun susah handle efektivitasnya. Seandainya ada siswa kita yang lulus, kita ingin buat ekosistemnya lebih gede," ujarnya.