Arland menilai kemampuan bahasa Mandarin tidak hanya bermanfaat untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga dapat menjadi bekal memasuki dunia kerja. Ia melihat peluang ekonomi di Buleleng akan semakin besar seiring perkembangan pariwisata, investasi, dan pembangunan infrastruktur.
"Ketika bandara ada, orang-orang Buleleng tidak hanya jadi tukang sapu, tukang pel, dan lain sebagainya. Bisa mungkin jadi translator dan lain-lain. Untuk menjadi guide juga penting untuk pengenalan budaya ataupun sejarah Buleleng," ujarnya.
Kemampuan bahasa Mandarin, kata Arland, juga dapat membantu pelaku UMKM dan petani memperluas pasar produk lokal, seperti durian, manggis, dan kopi. Kemampuan berkomunikasi dengan calon pembeli dari China dinilai dapat membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
Ke depan, Arland Academy tidak hanya mengembangkan kelas Mandarin. Ia juga berencana membuka pembelajaran bahasa Inggris dengan melibatkan mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).
Konsep pembelajaran akan diarahkan pada lingkungan bilingual yang nyaman sehingga peserta tidak takut melakukan kesalahan saat berlatih.
"Goals-nya adalah buat lingkungan berbahasa asing yang nyaman," katanya.
Arland memilih memulai program tersebut dalam skala kecil sebelum memperluasnya ke seluruh Buleleng. Saat ini, ia mulai membentuk tim untuk mendokumentasikan kegiatan sekaligus mengumpulkan testimoni dari siswa yang pernah dibimbing.
"Sementara ini goals-nya adalah bagaimana orang-orang bisa dasar-dasar dulu, buat lingkungan belajar yang nyaman. Kecil," kata Arland.