Naskah tersebut tidak hanya merekam perjalanan kerajaan, tetapi juga peristiwa erupsi Gunung Tambora pada 1815, kehidupan sosial masyarakat Bima, hubungan antarkerajaan, hingga tradisi Hanta Ua Pua.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara Perpusnas Aditia Gunawan menjelaskan, Kidung Bhuwana WinΔΕa merupakan puisi tradisional Bali yang merekam diplomasi, konflik, dan perlawanan masyarakat Bali serta Lombok terhadap kolonial Belanda.
Ditulis Ida Pedanda Ngurah pada 1918, naskah tersebut terdiri atas 55 lempir daun lontar dengan 383 bait dalam empat pupuh. Isinya antara lain merekam keterlibatan perempuan Bali dalam peristiwa Puputan Badung pada 1906 dan Puputan Klungkung pada 1908.