NADIKABAR.COM — Perusahaan keamanan siber ITSEC mengingatkan sistem pertahanan siber perlu diperkuat dengan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) untuk menghadapi serangan digital yang semakin canggih dan masif, mengingat pelaku kejahatan juga menggunakan teknologi tersebut.
"Jika kita dari sisi pertahanan tidak menggunakan AI, penyerang akan memegang keunggulan mutlak," kata President Director ITSEC Asia Patrick Dannacher dalam konferensi pers AICX 2026 di Jakarta, Jumat.
Patrick mengatakan serangan siber seperti ransomware dan phishing kini dapat dijalankan menggunakan agen AI yang memungkinkan seorang pelaku dapat menyerang ribuan perusahaan dan individu secara bersamaan.
Menurut dia, penggunaan AI memungkinkan pelaku kejahatan mengotomatisasi proses serangan siber dampaknya lebih cepat dan masif.
"Satu peretas kini dapat menyerang ribuan perusahaan dan individu sekaligus. Jenis serangannya tetap sama menggunakan ransomware, phishing, social engineering tetapi dengan daya rusak dan kecepatan yang digandakan oleh AI," ujar Patrick.
Patrick menjelaskan pelaku kejahatan siber memiliki keleluasaan untuk memanfaatkan model AI dengan biaya relatif rendah, termasuk menjalankannya secara lokal di komputer mereka.
Oleh karena itu, sistem pertahanan siber juga perlu memanfaatkan AI agar mampu menghadapi pola serangan siber yang juga menggunakan AI.
Selain memperkuat pertahanan, Patrick menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran keamanan siber di kalangan masyarakat. Menurut dia, manusia masih menjadi salah satu titik rentan dalam sistem keamanan digital.
Ia mengingatkan pentingnya edukasi keamanan siber. Pelatihan mengenai keamanan siber perlu diberikan kepada karyawan.
Sementara orang tua perlu mengenalkan pemahaman mengenai risiko keamanan siber kepada anak-anak yang telah menggunakan perangkat digital dan mengakses internet.
"Pesan literasi publik melalui media massa sangat krusial dan pelatihan adalah fondasi dari segalanya untuk memahami risiko dan konsekuensi (serangan siber)," kata Patrick.