"Inisiatif ini mengintegrasikan pemanfaatan limbah, inovasi teknologi pengolahan, hingga penyediaan bahan bakar berkelanjutan bagi industri penerbangan," sebut Taufik.

Pada kesempatan itu, Wakil Presiden menekankan inovasi pengembangan SAF harus diiringi dengan pemberdayaan warga setempat agar pengelolaan minyak jelantah tidak hanya mendukung kebutuhan industri, tetapi juga memberikan nilai ekonomi.

"Pengembangan SAF harus berjalan bersama pemberdayaan masyarakat, sehingga minyak jelantah yang dikelola ibu-ibu melalui bank sampah dapat memiliki nilai ekonomi dan terhubung dengan industri nasional," tuturnya.

Lebih lanjut, Taufik mengatakan pihaknya juga membangun ekosistem pengumpulan minyak jelantah dengan melibatkan masyarakat dan kelompok pengelola sampah di sekitar Kilang Cilacap.

Ia menjelaskan pengumpulan minyak jelantah dilakukan dengan memberdayakan bank sampah binaan serta menyediakan sarana pengumpulan yang mudah diakses masyarakat.

"Kami membangun ekosistem pengumpulan minyak jelantah dengan melibatkan masyarakat melalui tiga bank sampah binaan Kilang Cilacap, yaitu Beo Asri, Abhipraya, dan Cahaya Asri," ujarnya.

Ketiga bank sampah tersebut memiliki volume pengumpulan tahunan sebesar 984 liter dari Bank Sampah Abhipraya, 2.283 liter dari Bank Sampah Beo Asri, dan 717 liter dari Bank Sampah Cahaya Asri.